Jumat, 01 Mei 2015

Nilai Tukar Petani

10.     2 Nilai Tukar Petani
Sebagai negara yang mayoritas penduduknya hidup dari sektor pertanian, Indonesia selalu memprogramkan pembangunan pertanian dengan hakekatnya bertujuan demi kesejahteraan masyarakat petani baik sekedar mampu mencukupi kebutuhan subsisten yang terasa semakin sulit maupun demi peningkatan kesejahteraan petani itu sendiri.Indonesia pernah mengalami tingkat pertumbuhan ekonomi yang cukup tinggi (sekitar 7 % per tahun) dalam PJPT I yang lalu.Pada masa tersebut terjadi keberhasilan pencapaian ketersediaan pangan, transformasi struktur ekonomi, berkembangnya sektor industri dan jasa yang banyak menyerap tenagakerja menyebabkan tingginya peralihan peran sektor pertanian ke sektor nonpertanian, pergeseran dari migas ke non-migas. Kondisi ini (Simatupang, P. 1992) menciptakan iklim yang kondusif bagi pelaksanaan pembangunan dan hubungan sinergis dengan sektor lain.
Masih tersisanya masalah yang belum terselesaikan dari pelaksanaan pembangunan periode lalu masih bertambah sebagai konsekuensi perubahan pola kebijakan pemerintah dan perubahan lingkungan strategis baik global maupun domestik serta berbagai dampak akibat krisis ekonomi yang makin terasa berat belakangan ini terutama bagi kalangan masyarakat menengah ke bawah. Terlepas dari keberhasilan yang pernah dicapai dan peran trategis sector pertanian seperti tersebut diatas, tantangan pembangunan pertanian saat ini dan di masa mendatang juga terasa semakin berat.
Pembangunan pertanian telah memberikan sumbangan dalam keberhasilan pembangunan nasional, seperti dalam pembentukan PDB, penyerapan tenagakerja, peningkatan pendapatan masyarakat, perolehan devisa melalui ekspor dan penekanan inflasi (Bunasor, 1997: Simatupang, P. 1992); dimana gerakannya diantisipasi dan diselaraskan searah dengan dinamika pembangunan yang terjadi.
Sejak pelita VI orientasi pembangunan pertanian beralih dari fokus peningkatan produksi semata ke arah orientasi pendapatan (kesejahteraan) masyarakat pertanian, terutama pertanian di pedesaan.Untuk itu pengembangan agribisnis telah menempati posisi sentral pembangunan pertanian (Baharsyah, 1991).Sebagai relevansinya adalah upaya memberi masukan bagi pelaksanaan pembangunan pertanian selanjutnya dengan mengkaji dampak kebijaksanaan tersebut di tingkat mikro dan makro terhadap perbaikan kesejahteraan kaum petani.
Untuk melihat dinamika tingkat kesejahteraan petani, salah satu alat bantu ukurnya adalah NTP (Nilai Tukar Petani) dan NTKP (Nilai Tukar Komoditas Pertanian), dimana peningkatan nilai tukar tersebut diharapkan mampu mengindikasikan peningkatkan kesejahteraan masyarakat pertanian maupun keadaan sebaliknya. NTP berkaitan dengan kemampuan dan daya beli petani dalam membiayai hidup rumahtangganya. NTKP berkaitan dengan kekuatan dari daya tukar ataupun daya beli dari suatu komoditas pertanian terhadap komoditas/produksi lain yang dipertukarkan.
Keberhasilan pembangunan pertanian yang pernah dicapai tidak dapat dipungkiri, telah diikuti pula oleh perubahan secara struktural pada sektor perekonomian nasional, yang mana peran sector pertanian semakin menurun digeser oleh peran sektor industri; dimana tersirat pula adanya beban berat dari sektor pertanian.Hal ini terutama berkaitan dengan semakin melebarnya kesenjangan antara sector pertanian dengan sektor di luar pertanian, serta penurunan nilai tukar pertanian yang disebabkan penurunan nilai tukar komoditas pertanian.
Krisis moneter yang turut memicu krisis ekonomi berpengaruh negatip yang salah satu dampaknya terlihat dengan meningkatnya pengangguran (yang umumnya berasal dari tenagakerja pedesaan) dan jumlah penduduk miskin. Pengaruh positip dengan salah satu dampaknya terlihat pada meningkatnya harga komoditas pertanian baik harga produk maupun harga beli input oleh petani. Hal ini disebabkan oleh meningkatnya nilai tukar mata uang asing (US dollar).
Apabila daya beli petani karena pendapatan yang diterima dari kenaikan harga produksi pertanian yang dihasilkan, lebih besar dari kenaikan harga barang yang dibeli, maka hal ini mengindikasikan bahwa daya dan kemampuan petani lebih baik atau tingkat pendapatan petani lebih meningkat.Alat ukur daya beli petani selintas dapat menunjukkan tingkat kesejahteraannya dirumuskan dalam bentuk Nilai Tukar Petani (NTP) yang terbentuk oleh keterkaitan yang kompleks dari suatu system pembentuk harga, baik yang harga yang diterima maupun harga yang dibayar petani. Dengan kata lain, Nilai tukar Petani dapat didefenisikan sebagai nisbah antara indeks harga yang diterima petani dengan indeks harga yang dibayar oleh petani, sehingga merupakan ukuran kemampuan daya tukar produk yang dihasilkan terhadap produk dan jasa yang mampu dibeli rumahtangga petani, baik untuk biaya input usahatani maupun biaya konsumsi rumahtangga petani.
Berbagai fenomena perubahan situasi (gejolak) yang terjadi baik yang bersifat alami (seperti gejolak produksi pertanian) maupun gejolak yang terjadi akibat adanya distorsi pasar (seperti penerapan kebijaksanaan yang disengaja, baik di sektor pertanian dan non-pertanian, di tingkat mikro maupun makro), akan mempengaruhi harga-harga, yang pada gilirannya akan mempengaruhi nilai tukar petani, akan menjadi masukan penting bagi penyusunan program kebijaksanaan ke arah pembentukan nilai tukar yang diinginkan. Keadaan ini dapat mengindikasikan bahwa kebijaksanaan-kebijaksanaan pemerintah dari awal yang terkait dengan input produksi usahatani sampai pada pemasaran hasil produk pertanian (antara lain: kejaksanaan harga input dan output, subsidi, modal/perkreditan dan lainnya) akan mempengaruhi nilai tukar petani secara langsung maupun tidak langsung.
Fluktuasi nilai tukar petani akan menunjukkan fluktuasi kemampuan pembayaran ataupun tingkat pendapatan riil petani. Menurut Killick (1983), Timmer et al. (1983), kegiatan pertanian tentu saja tidak lepas dari kegiatan di luar sector pertanian, dengan demikian nilai tukar petani juga dipengaruhi oleh peran dan perilaku di luar sektor pertanian. Perbaikan dan peningkatan nilai tukar petani yang mengindikasikan peningkatan kesejahteraan petani akan terkait dengan kegairahan petani untuk berproduksi. Hal ini akan berdampak ganda (Supriyati et al., 2000) tidak saja dalam peningkatan partisipasi petani dan produksi pertanian dalam menggairahkan perekonomian pedesaan, penciptaan lapangan pekerjaan di pedesaan dan menumbuhkan permintaan produk non=pertanian; tetapi juga diharapkan akan mampu mengurangi perbedaan (menciptakan keseimbangan) pembangunan antar daerah (desa-kota), maupun antar wilayah serta optimalisasi sumberdaya nasional.
Keragaman penerimaan, pengeluaran dan nilai tukar petani antar daerah dan waktu dipengaruhi oleh mekanisme pembentukan dalam sistem nilai tukar petani yang berbeda antar daerah dan antar waktu sebagai akibat dari keragaman system pembentukan penawaran dan penerimaan. Dari sisi penerimaan petani, keragaman antar daerah dan waktu terjadi berkaitan dengan keragaman sumberdaya dan komoditas yang diusahainya serta diversivikasi sumber pendapatan lain. Keragaman pengeluaran petani terkait dengan keragaman pola konsumsi petani antar daerah dan waktu. (Supriyati et al, 2000).
Pelaksanaan maupun keberhasilan pembangunan telah menumbuhkan keragaman pada sumber pendapatan dan pola/kebutuhan konsumsi baru.Sumber pendapatan petani tidak lagi semata berasal dari usahatani dan buruh tani (on farm dan off farm), tetapi berkembang dari kegiatan non-pertanian (non-farm).Hal ini berkaitan dengan faktor pendorong yang berasal dari dalam diri petani untuk berusaha di luar sektor pertanian karena tidak/kurang mampunya sektor ini (on farm dan off farm) mencukupi kebutuhan konsumsi yang kian meningkat dan bervariasi.Faktor penarik yang berasal dari luar petani berkaitan dengan makin terbukanya peluang pekerjaan di luar sektor pertanian yang dirasa lebih nyaman dan lebih menjanjikan untuk meningkatkan taraf penghasilan dan penghidupan bagi petani.
Besar kecilnya proporsi pendapatan rumahtangga petani dari sektor pertanian akan mempengaruhi besar kecilnya kekuatan nilai tukar pertanian bagi petani yang berkaitan erat dengan peran pertanian dalam pemenuhan kebutuhan rumahtangga petani. Perbedaan peran proporsi pertanian selain dipengaruhi dan terkait menurut kelompok masyarakat, antara petani berlahan luas dengan berlahan sempit dan buruh tani, juga dipengaruhi oleh tingkat profitabilitas usaha pertanian, kekuatan/kemampuan pasar dan kebijaksanaan pemerintah. Dengan demikian mekanisme komplek dari sistem permintaan, penawaran dan kebijaksanaan akan berpengaruh dalam pembentukan nilai tukar pertanian. Pembentukan harga tidak semata ditentukan oleh sector pertanian, tetapi juga oleh perilaku sector di luar pertanian baik sektor riil, fiskal, maupun moneter.(Killick, 1983: Timmer et al, 1983).
Formulasi masalah dan tujuan studi ini akan meliputi: 1)Perilaku Nilai Tukar Petani (NTP); 2)Perilaku Nilai Tukar Komoditas Pertanian (NTKP) yang masingmasing menurut luas garapan; 3)Analisa faktor-faktor yang menentukan NTP dan NTKP; 4)Analisa dampak dari kebijaksanaan pembangunan pertanian terhadap NTP dan NTKP.
Komoditas dalam penelitian ini adalah: kedelai. Dengan memilih beberapa daerah di Jawa Timur sebagai lokasi penelitian, dengan latar belakang bahwa daerah Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur dikenal sebagai salah satu daerah sentra produksi komoditas kedelai.
Penentuan dan pemilihan petani responden dilakukan secara acak dengan berdasarkan pada strata kepemilikan/pengusahaan lahan untuk komoditi kedelai yang kisaran antara 0,25 ha < n < 1 ha sebanyak 60 petani.
Metode analisa secara garis besar adalah sebagai berikut: (1)Keragaan perilaku nilai tukar pendapatan/penerimaan komoditas pertanian; (2)Analisa faktor-faktor yang mempengaruhi pembentukan harga sebagai pendekatan analisa kebijaksanaan pembangunan pertanian; (3)Analisa nilai tukar pendapatan.
NTI = Px Qx / Py Qy
Dimana NTI adalah menggambarkan tingkat profitabilitas usahatani komoditas tertentu, belum mencakup keseluruhan komponen pendapatan dan pengeluaran petani, hanya menggambarkan nilai tukar komodits tertentu.
HKOMjt = f (PRKOMjt, INFt)
Dimana: HKOMjt adalah harga komoditas j pada waktu t. PRKOMjt adalah produksi komoditas j pada waktu t INFt adalah inflasi pada waktu t (diproksi dengan IHK pedesaan).
Arti Angka NTP :
·         NTP > 100, berarti petani mengalami surplus. Harga produksi naik lebih besar dari kenaikan harga konsumsinya. Pendapatan petani naik lebih besar dari pengeluarannya.
·         NTP = 100, berarti petani mengalami impas. Kenaikan/penurunan harga produksinya sama dengan persentase kenaikan/penurunan harga barang konsumsi. Pendapatan petani sama dengan pengeluarannya.
·         NTP< 100, berarti petani mengalami defisit. Kenaikan harga produksi relatif lebih kecil dibandingkan dengan kenaikan harga barang konsumsinya. Pendapatan petani turun, lebih kecil dari pengeluarannya.
Kegunaan dan Manfaat
o    Dari Indeks Harga Yang Diterima Petani (It), dapat dilihat fluktuasi harga barang-barang yang dihasilkan petani. Indeks ini digunakan juga sebagai data penunjang dalam penghitungan pendapatan sektor pertanian.
o    Dari Indeks Harga Yang Dibayar Petani (Ib), dapat dilihat fluktuasi harga barang-barang yang dikonsumsi oleh petani yang merupakan bagian terbesar dari masyarakat di pedesaan, serta fluktuasi harga barang yang diperlukan untuk memproduksi hasil pertanian. Perkembangan Ib juga dapat menggambarkan perkembangan inflasi di pedesaan.
o    NTP mempunyai kegunaan untuk mengukur kemampuan tukar produk yang dijual petani dengan produk yang dibutuhkan petani dalam produksi dan konsumsi rumah tangga.
o    Angka NTP menunjukkan tingkat daya saing produk pertanian dibandingkan dengan produk lain. Atas dasar ini upaya produk spesialisasi dan peningkatan kualitas produk pertanian dapat dilakukan.
Cakupan Komoditas
o    Sub Sektor Tanaman Pangan seperti: padi, palawija
o    Sub Sektor Hortikultura seperti : Sayur-sayuran, buah-buahan, tanaman hias & tanaman obat-obatan
o    Sub Sektor Tanaman Perkebunan Rakyat (TPR) seperti: kelapa, kopi robusta, cengkeh, tembakau, dan kapuk odolan. Jumlah komoditas ini juga bervariasi antara daerah
o    Sub Sektor Peternakan seperti : ternak besar (sapi, kerbau), ternak kecil (kambing, domba, babi, dll), unggas (ayam, itik, dll), hasil-hasil ternak (susu sapi, telur, dll)
o    Sub Sektor Perikanan, baik perikanan tangkap maupun perikanan budidaya


Pengukuran Nilai Tukar Petani (NTP)
Secara konsepsi NTP mengukur daya tukar dari komoditas pertanian yang dihasilkan petani terhadap produk yang dibeli petani untuk keperluan konsumsi dan keperluan dalam memproduksi usahatani. Nilai tukar petani (NTP Padi ) didefinisikan sebagai rasio antara harga yang diterima petani (HT) dengan harga yang dibayar petani (HB) atau NTP = HT/HB. Pengukuran NTP dinyatakan dalam bentuk indeks sebagai berikut:
INTP = Indeks Nilai Tukar Petani,
IT = Indeks harga yang diterima petani,
IB = Indeks harga yang dibayar petani.
Indeks tersebut merupakan nilai tertimbang terhadap kuantitas pada tahun dasar tertentu. Pergerakan nilai tukar akan ditentukan oleh penentuan tahun dasar karena perbedaan tahun dasar akan menghasilkan keragaan perkembangan indeks yang berbeda. Formulasi indeks yang digunakan adalah Indeks Laspeyres (BPS, 1995).
I = Indeks Laspeyres,
Qo = Kuantitas pada tahun dasar tertentu (tahun 0),
P0 = Harga pada tahun dasar tertentu (tahun 0),
Pi = Harga pada tahun ke i.
Dalam operasionalisasi penghitungan NTP, BPS memodifikasi Indeks Laspeyres sebagai berikut:
In = Indeks harga bulanan bulan ke n (IT dan IB),
Pni = Harga bulan ke n untuk jenis barang ke i,
P(n-1)i = Harga bulan ke (n-1) untuk jenis barang ke i,
Pni/P(n-1)i = Relatif harga bulan ke n untuk jenis barang ke I,
Poi = Harga dasar tahun dasar untuk jenis barang ke i,
Qoi = Kuantitas pada tahun dasar untuk jenis barang ke i,
m = Banyaknya jenis barang yang tercakup dalam paket komoditas.
Metoda Analisa
Sesuai dengan lingkup kegiatan di atas, metoda analisa yang digunakan adalah:
a.       Analisa Nilai Tukar Petani Nasional, dalam analisa digunakan metoda regresi data perkembangan NTP secara nasional. Data yang digunakan dalam analisa ini adalah data bulanan sejak Januari 2008 sampai dengan Mei 2013 yang berasal BPS. Hasil analisa regresi NTP nasional dan perilakunya akan digambarkan dalam bentuk grafik yang sesuai.
b.      Analisa Faktor-faktor dan Kebijakan yang Mempengaruhi Nilai Tukar Petani, analisa faktor-faktor yang mempengaruhi NTP dilakukan dengan cara menghitung dampak dari masing-masing komponen penyusun NTP (hargaharga) terhadap NTP. Dampak tersebut ditunjukkan dalam bentuk nilai marjinal dan elastisitas dari perubahan harga-harga terhadap NTP. Dampak dari perubahan harg-harga tersebut juga dapat terjadi karena penerapan kebijakan, sehingga melalui analisa ini juga dapat dilakukan analisa dampak dan kebijakan terhadap NTP.
c.       Analisa Nilai Tukar Pendapatan Usahatani dan Pendapatan Rumahtangga, analisa ini mencakup: (a) Analisa NT Pendapatan Usahatani komoditas terpilih menurut sub sektor tanaman pangan, hortikultura, perkebunan dan peternakan serta, (b) Analisa NT Pendapatan Rumahtangga dari agroekosistem sawah dan lahan kering.
d.      Perumusan Alternatif Kebijakan Nilai Tukar Petani sebagai Ukuran Kesejahteraan Petani sebagai Bahan Dasar RPJMN 2015-2019 Bidang Pertanian, perumusan kebijakan dilakukan dengan cara merangkum semua hasil temuan analisa di atas dan merumuskan implikasi kebijakan dari hasil temuan tersebut yang terkait dengan RPJM 2015-2019.

Reference:


Tidak ada komentar:

Posting Komentar